Kamis, 28 Februari 2013

Naskah dialog drama 7 orang



Tugas Bahasa Indonesia
Naskah Drama


“Seandainya Kau Tahu”



SMPN 8 Malang

“Seandainya Kau Tahu”

Setting 1
          Pada suatu malam Silva memberikan undangan pengambilan raport kepada ayahnya, namun ayahnya acuh tak acuh kepada Silva.

Silva  : “Yah, besok ada undangan pengambilan raport bagi wali murid,
            Ayah  datang ya?.”
Ayah  : “Ahh, kamu ini anak sukanya ngrepotin  aja! Gak tau apa ayah
            Capek cari uang buat kamu!” (dengan nada emosi)
Silva  : “Tapi yah...”
Ayah  : “Udah-udah,ayah capek mau tidur.” (pergi ke kamar)
                  
Silva terduduk lemas, ia mengira mungkin Ayahnya memang sibuk, ia pun mengira mungkin ibunya bisa datang pada pengambilan raport tersebut.

Ibu    : (membuka pintu dan tak menghiraukan silva yang duduk lemas )
Silva  : “Ibu, ini ada undangan pengambilan raport, Ibu datang ya?”
Ibu    : “Ibu tidak bisa nak, besok ada meeting ke luar kota, kan ada
             Ayahmu?”
Silva  : “Lho ? tapi ayah juga nggak bisa bu,”
Ibu    : “Mana ayahmu sekarang?” (emosi dan mencari ayah)
Silva  : “Itu di kamar”
Ibu    : (menghampiri ayah di kamar) “Ayah ini, ngambilin raport anaknya saja gak
             sempat”
Ayah  : (terbangun) “Baru pulang udah ngomel-ngomel, ibu juga sama saja, kerjanya       
             meeting terus ke luar kota”
Ibu    : “Aku kan melakukan ini buat keluarga kita yah!”
Ayah : “Emang ibu pikir ayah kerja buat siapa? Buat keluarga kita kan?”
Silva  : (menghampiri) “Sudahlah nggak usah bertengkar! Udah nggak pernah di   
            rumah, bertengkar terus! Aku capek yah, bu!”
                   Silva pun meninggalkan ayah dan ibunya.

Setting2
              Di sekolah, Silva bertemu dengan sahabatnya, Natasya.
Tasya : “Hai sil, gimana hasil raportmu? Siapa yang ngambil?”
Silva  : “Udahlah Nat, gak usah bahas masalah itu!”
Tasya : “Lho? Kenapa? (menatap wajah silva)”
Silva  : (tersenyum) “Gak papa, eh aku boleh gak nanti malem menginap di   
            rumahmu?”
Tasya : “Gak papa, kebetulan juga ada saudaraku yang seumuran sama kita.”
Silva  : “Wah, bagus tuh! Ke kantin yuk, Nat!”
Tasya : “Ayuk!”

Setting3
                   Sesampainya di rumah Natasya.
Tasya : “Sil, kenalin ini saudaraku , namanya Eka”
Silva  : “Hai aku silva”
Eka    : “Aku Eka”
                   Silva dan Eka saling memandang gelang yang di pakainya.
Silva dan Eka  : “ Gelang itu!”
Silva  : “Putri?”
Eka    : “Fara?”
Tasya : “Lho? Kalian udah saling kenal?” (bingung)
Eka    : “Dia sahabatku waktu kecil, aku uda lama sekali enggak bertemu karena aku     
             pindah rumah”
Tasya : “Oh, jadi gitu, yaudah deh bagus kalo gitu. Ka,silva mau nginap disini loh.
Eka    : “Wah, tambah seru dong, tapi kenapa?”
Silva  : “Kenapa apanya?”
Eka    : “Maksud ku kenapa kamu menginap disini?”
Silva  : “Sebenarnya aku menginap disini karena ibu dan ayahku bertengkar,    
            pulangnya juga malem terus. Aku bosan di rumah suram itu!”
Eka    : “Wah kebetulan dong, kita bisa main sepuasnya”
Tasya : “Kok gitu sil? Aku pikir kamu cuma mau main aja, ternyata kamu punya
            masalah, kenapa kamu enggak cerita?”
Silva  : “Aku gak suka membahas itu lagi”
Eka    : “Tau nih Natasya gak asik banget, malah di bahas lagi”
Silva  : “Tau tuh!”
Tasya : “Lho? Kok marah semua ke aku sih?”
Eka    : “Daripada kayak gini mending kita jalan-jalan ke mall aja”
Silva  : “Setuju, biar kita bisa refresing sedikit.”

Setting4
                   Silva,Eka,dan Natasya pun pergi ke mall untuk menghilangkan penat yang ada di hatinya.

Tasya : “Keliatannya di situ barangnya bagus-bagus, kesana yuk!” (menggandeng ke
            toko aksesoris)
Eka    : “Eh, Sil, Nat, kalung ini bagus ya! Aku jadi pingin deh”
Tasya : “Tapi kita kan nggak bawa uang?”
Silva  : “Udahlah, kalian tenang aja! (berkata lirih) “Barang jelek, liat-liat yang
            lain aja yuk!“ (memasukkan kalung tersebut ke sakunya)
Tasya : ”Silva! (terkejut) apa yang kamu lakukan?”
Satpam: “Kalian ambil apa itu” (berteriak)
Tasya : “Ambil kalung pak!”
Silva dan Eka : “Nat! (sambil melotot) Lari!”
Tasya : “Lari kemana?” (bengong)
Satpam: “Mau lari kemana kamu?” (menangkap Natasya)
Tasya : “Saya nggak lari, Pak.”
Satpam: “O iya ya, kamu nggak lari” (garuk-garuk kepala)
Tasya : ”Gimana pak, jadi  nangkep saya nggak pak?”
Satpam: “Sudah kamu tunggu sini, saya mau ngejar temanmu yang tadi!”
Tasya : ”Iya pak, jangan lama-lama ya, semoga cepat menemukan teman-teman saya“
Satpam: (lari mengejar )
Beberapa saat kemudian.
Satpam: ”Hayo mau lari kemana lagi kalian?”
Eka    : ”Gak tau pak, yang penting kabur.”
Satpam: ”Jangan banyak bicara ikut saya ke kantor!”
Silva  : “Nggak mau!”
Eka    : ”Ya udah deh Sil, kita ikut aja ke kantor.“

Setting 5
Saat di kantor, pak satpam menelfon kedua orang tua Silva.
Satpam: ”Selamat pagi, apakah benar ini orang tua dari Silva?”
Ibu    : ”Iya benar, dengan siapa ini?”
Satpam: “Kami pihak security mall melaporkan anak ibu terlibat dalam aksi pencurian
            di toko aksesoris.”
Ibu    : “Oh, benarkah? Yasudah tidak apa-apa. Nanti saja ya pak, saya sedang ada
            meeting. Telfon suami saya saja ya!” (Telfonnya pun dimatikan)
Satpam: “Astagfirullah, ibu macam apa ini!”
Eka    : “Ibu macam-macam pak.”
Satpam: “Sekarang saya akan telfon bapak kamu. Selamat pagi, apakah benar ini
            orang tua dari Silva? Kami dari pihak security melaporkan anak bapak   
  terlibat dalam aksi pencurian di toko aksesoris.”
Ayah  : “Maaf pak, saya lagi di luar kota. Saya serahkan kasus ini pada bapak. Sekian
            dan terima kasih.”
Silva  : “Percuma pak anda menelfon orang tua saya, mereka tidak ada yang peduli
            dengan saya.” (wajah memelas dan sedih)
Satpam: “Kasihan sekali ya hidup kamu, saya ikut prihatin.”
Silva  : “Tapi teman saya mana pak?”
Satpam: “Teman kamu yang mana?”
Silva  : “Yang pake kacamata tadi pak.”
Satpam: “Oh iya saya lupa, saya jemput dulu temanmu, kalian tunggu disini.”
Eka    : “Baiklah pak.”

Setting 6
Pak Satpam segera mencari Natasya.
Tasya : “Lama sekali sih pak?”
Satpam: “Maaf, saya tadi masih lupa,sekarang saya sudah ingat.”
Tasya : “Ya sudah sekarang pertemukan saya dengan teman-teman saya.”
Satpam: “Baiklah, ikut saya”

Setting 7
Di kantor.
Satpam: “Baiklah sekarang kalian boleh pulang”
Tasya : “Kami tidak jadi dihukum pak?”
Satpam: “Dikarenakan kondisi kalian yang memprihatinkan,jadi saya hapuskan
             hukuman untuk kalian.”
Eka    : “Ciyus pak?”
Satpam: “Baiklah, cepat pulang dan bertobatlah.”
Silva  : “Insyaallah  pak, jika tidak lupa.”

Setting 8
Saat pulang dari Mall, Silva langsung menuju rumah.
Ibu    : “Tadi ibu dapat telefon dari security Mall, katanya kamu habis mencuri ya?”
Silva  : “Memangnya kenapa? Ibu masih peduli sama aku?”
Ibu    : “Ibu kan tanya baik-baik, kenapa kamu jawab kayak gitu?”
Ayah  : “Lihat kelakuan anakmu itu bu, sudah salah masih saja membela diri!”
Ibu    : “Itu kan anak ayah juga!”
Ayah  : “Terserah ibu apakan anak itu, ayah sudah lelah menanganinya!”
Ibu    : “Kamu memang anak yang keterlauan!” (akan menampar)
                     Tiba-tiba pak ustad datang.
Ustad : “Astagfirullah, istighfar bu. Ibu kan memakai kerudung gak pantas sama  
             kelakuannya. Mungkin ini hanya terjadi kesalah pahaman saja, sudahlah 
             jangan emosi bu.”            
Ibu    : “Tapi pak..”
Ustad : “Sudah bu, anak ibu sesungguhnya hanya ingin perhatian dari ibu. Anak mana  yang ingin kehilangan perhatian dari ibunya? Tidak ada kan? Jika sampai anda tidak memperhatikan anak anda sendiri, mengapa anda bahagia sebelum ia lahir di dunia. Sesungguhnya di dalam kandungan, anak sudah sering berkomunikasi dengan ibunya.”
Ibu    : “Anak ini sudah keterlaluan pak ustad.”
Ustad : “Justru itu, ia berbuat seperti ini karena ingin anda perhatikan. Coba   
renungkan jika anda sudah memperhatikannya sejak dulu. Apakah ia akan    keterlaluan?”
Ibu    : (diam, menunduk, dan merenung)
Ustad : “Yasudah, saya pamit pulang dulu Assalamualaikum.”
Ibu dan Ayah : “Walaikumsalam.”
Ustad : “Dadah, sampai jumpa, semoga menjadi keluarga yang sakinah,
            mawadah,warohmah.”
Ayah  : “Pak ustad ada-ada saja.” (geli)
Ibu    : “Nak ibu sadar selama ini kita memang tidak ada waktu dengan mu,  
             maafkanlah kami ya nak, ibu janji tidak akan mengulanginya lagi.”
Silva  : “Nggak usah minta maaf!” (meninggalkan rumah)
Ibu    : ”Silva.......!!!!!!!!!!“ (sambil menangis)

Setting 9
Keesokan harinya ibu dan ayah pergi ke rumah pak ustad.
Ayah  : ”Assalamualaikum” (mengetuk pintu)
Ustad : ”Waalaikumsalam. Siapa?
Ayah  : ”Kami pak.”
Ustad : ”Kami siapa?”
Ayah  : ”Orang tua dari Silva.”
Ustad : ”Silahkan masuk. Ada masalah apa lagi pak?”
Ayah  : ”Anak kami kabur dari rumah lagi dan tidak mau memaafkan kami.”
Ustad : ”Mengapa bisa seperti itu?
Ayah  : ”Kami juga tidak tahu pak. Lalu kami harus bagaimana?”
Ustad :”Biarkan dia menenangkan dirinya dulu, setelah itu barulah kita ajak bicara
baik-baik. Bapak dan ibu juga jangan lupa mendekatkan diri pada yang  diatas.”
Ibu    : “Ha? Maksudnya genteng pak?”
Ustad : “Masyaallah, saya khilaf. Maksud saya kepada Allah SWT bu.”
Ibu    : “Ooo, begitu pak.”
Ayah  : “Ibu ini malu-maluin aja!”
Ibu    : “Hehe, maaf.”
Ustad : “Yasudah sebaiknya bapak dan ibu pulang dulu, segera ambil air wudlu dan
            dekatkan diri padaNya, insyaallah ada jalan."
Ibu    : ”Ya pak, terima kasih atas bantuannya.”
Ayah  : ”Assalamualaikum.”
Ustad : ”Waalaikumsalamwarahmatullahiwabarokatuh.”

Setting 10
          Di rumah Natasya.
Eka    : “Sil, apakah kamu tidak kasihan dengan orang tuamu?”
Silva  : “Buat apa ?”
Tasya : “Buat oleh-oleh.”
Eka    : “Haduuuh, kamu ini gimana sih Nat? Aku ini serius.”
Silva  : “Aku mau tetap disini saja.”
Tasya : “Lho? Nanti kalau kamu disini terus jatah makanku berkurang.”
Eka    : “Udah lah sil, kasihan orang tuamu, mending kamu maafin orangtuamu.”
Tasya : “Kenapa sih kamu gak mau maafin mereka?”
Silva  : “Aku malu, karena udah lama gak pulang”
Eka    : “Ya udah deh nanti kita bantu ngomong ke orang tuamu.”
Silva  : “Yaudah deh aku mau kalo gitu.”

Setting 11
Kemudian mereka bertiga ke rumah Silva, mengantarkan Silva untuk meminta maaf pada orang tuanya.
Silva  : “Ibuu... aku minta maaf atas kesalahanku, aku khilaf bu, aku tak akan  
             mengulanginya lagi”
Ibu    : “Baiklah nak, ibu juga meminta maaf, ibu mengaku salah kemarin”
Ayah  : ”Ayah juga minta maaf, ayah dan ibu janji akan lebih memperhatikan kamu  
            lagi.”
Eka    : “Aku terharu ,Nat.”
Tasya : “Aku tidak terlalu.”
Eka    : “Natasya!” (geram)
Tiba-tiba lewatlah Pak Ustad di depan rumah mereka.
Ustad : “Alhamdulilah, memang beginilah jalan Allah. Akan indah pada waktunya.”

Tamat
The end

2 komentar: