KENAKALAN REMAJA
Kenakalan remaja meliputi semua perilaku yang menyimpang
dari norma-norma hukum pidana yang dilakukan oleh remaja. Perilaku tersebut
akan merugikan dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya.
A. Definisi Kenakalan
Remaja Menurut Para Ahli
Ø
Kartono,
ilmuwan sosiologi “kenakalan remaja atau dalam bahasa Inggris dikenal
dengan istilah juvenile delinquency merupakan gejala patologis sosial
pada remaja yang disebabkan oleh satu bentuk pengabaian sosial. Akibatnya,
mereka mengembangkan bentuk perilaku yang menyimpang”.
Ø
Santrock “kenakalan
remaja merupakan kumpulan dari berbagai perilaku remaja yang tidak dapat
diterima secara sosial hingga terjadi tindakan kriminal.”
B. Sejak
kapan masalah kenakalan remaja mulai disoroti?
Masalah kenakalan mulai mendapat perhatian masyarakat secara
khusus sejak terbentuknya peradilan untuk anak-anak nakal (juvenile court) pada
1899 di Illinois, Amerika Serikat.
C. Jenis
– Jenis Kenakalan Remaja
1. Penyalahgunaan narkoba
2. Seks bebas
3. Tawuran antara pelajar
4. Minum-minuman keras
5. Memperkosa
6. Membolos sekolah
7. dan lain-lain,
D. Hal –
Hal yang Mempengaruhi Timbulnya Kenakalan Remaja
Kenakalan remaja dapat
ditimbulkan oleh beberapa hal, sebagian di antaranya adalah:
1. PENGARUH KAWAN
SEPERMAINAN
Di kalangan remaja, memiliki banyak kawan adalah merupakan satu bentuk prestasi
tersendiri. Makin banyak kawan, makin tinggi nilai mereka di mata
teman-temannya. Apalagi mereka dapat memiliki teman dari kalangan terbatas.
Misalnya, anak orang yang paling kaya di kota itu, anak pejabat pemerintah
setempat bahkan mungkin pusat atau pun anak orang terpandang lainnya. Di jaman
sekarang, pengaruh kawan bermain ini bukan hanya membanggakan si remaja saja
tetapi bahkan juga pada orangtuanya. Orangtua juga senang dan bangga kalau
anaknya mempunyai teman bergaul dari kalangan tertentu tersebut. Padahal,
kebanggaan ini adalah semu sifatnya. Malah kalau tidak dapat dikendalikan,
pergaulan itu akan menimbulkan kekecewaan nantinya. Sebab kawan dari kalangan
tertentu pasti juga mempunyai gaya hidup yang tertentu pula. Apabila si anak
akan berusaha mengikuti tetapi tidak mempunyai modal ataupun orangtua tidak
mampu memenuhinya maka anak akan menjadi frustrasi. Apabila timbul frustrasi,
maka remaja kemudian akan melarikan rasa kekecewaannya itu pada narkotik, obat
terlarang, dan lain sebagainya.Pengaruh kawan ini memang cukup besar.
Dalam Mangala Sutta, Sang Buddha bersabda: “Tak bergaul dengan orang
tak bijaksana, bergaul dengan mereka yang bijaksana, itulah Berkah Utama”.
Pengaruh kawan sering diumpamakan sebagai segumpal daging busuk apabila
dibungkus dengan selembar daun maka daun itupun akan berbau busuk. Sedangkan
bila sebatang kayu cendana dibungkus dengan selembar kertas, kertas itu pun
akan wangi baunya. Perumpamaan ini menunjukkan sedemikian besarnya pengaruh
pergaulan dalam membentuk watak dan kepribadian seseorang ketika remaja,
khususnya. Oleh karena itu, orangtua para remaja hendaknya berhati-hati dan
bijaksana dalam memberikan kesempatan anaknya bergaul. Jangan biarkan anak
bergaul dengan kawan-kawan yang tidak benar. Memiliki teman bergaul yang tidak
sesuai, anak di kemudian hari akan banyak menimbulkan masalah bagi orangtuanya.
Untuk menghindari masalah yang akan timbul akibat pergaulan, selain mengarahkan
untuk mempunyai teman bergaul yang sesuai, orangtua hendaknya juga memberikan
kesibukan dan mempercayakan sebagian tanggung jawab rumah tangga kepada si
remaja. Pemberian tanggung jawab ini hendaknya tidak dengan pemaksaan maupun
mengada-ada. Berilah pengertian yang jelas dahulu, sekaligus berilah teladan
pula. Sebab dengan memberikan tanggung jawab dalam rumah akan dapat mengurangi
waktu anak ‘kluyuran’ tidak karuan dan sekaligus dapat melatih anak mengetahui
tugas dan kewajiban serta tanggung jawab dalam rumah tangga. Mereka dilatih
untuk disiplin serta mampu memecahkan masalah sehari-hari. Mereka dididik untuk
mandiri. Selain itu, berilah pengarahan kepada mereka tentang batasan teman
yang baik.
Dalam Digha Nikaya III, 188, Sang Buddha memberikan petunjuk tentang
kriteria teman baik yaitu mereka yang memberikan perlindungan apabila kita
kurang hati-hati, menjaga barang-barang dan harta kita apabila kita lengah,
memberikan perlindungan apabila kita berada dalam bahaya, tidak pergi
meninggalkan kita apabila kita sedang dalam bahaya dan kesulitan, dan membantu
sanak keluarga kita.
Sebaliknya, dalam Digha Nikaya III, 182 diterangkan pula kriteria teman
yang tidak baik. Mereka adalah teman yang akan mendorong seseorang untuk
menjadi penjudi, orang yang tidak bermoral, pemabuk, penipu, dan pelanggar
hukum.
2. PENDIDIKAN
Memberikan pendidikan yang sesuai adalah merupakan salah satu tugas orangtua
kepada anak seperti yang telah diterangkan oleh Sang Buddha dalam Digha
Nikaya III, 188. Agar anak dapat memperoleh pendidikan yang sesuai, pilihkanlah
sekolah yang bermutu. Selain itu, perlu dipikirkan pula latar belakang agama
pengelola sekolah. Hal ini penting untuk menjaga agar pendidikan Agama Buddha
yang telah diperoleh anak di rumah tidak kacau dengan agama yang diajarkan di
sekolah. Berilah pengertian yang benar tentang adanya beberapa agama di dunia.
Berilah pengertian yang baik dan bebas dari kebencian tentang alasan orangtua
memilih agama Buddha serta alasan seorang anak harus mengikuti agama orangtua,
Agama Buddha.Ketika anak telah berusia 17 tahun atau 18 tahun yang merupakan
akhir masa remaja, anak mulai akan memilih perguruan tinggi. Orangtua hendaknya
membantu memberikan pengarahan agar masa depan si anak berbahagia. Arahkanlah
agar anak memilih jurusan sesuai dengan kesenangan dan bakat anak, bukan
semata-mata karena kesenangan orang tua. Masih sering terjadi dalam masyarakat,
orangtua yang memaksakan kehendaknya agar di masa depan anaknya memilih profesi
tertentu yang sesuai dengan keinginan orangtua. Pemaksaan ini tidak jarang
justru akan berakhir dengan kekecewaan. Sebab, meski memang ada sebagian anak
yang berhasil mengikuti kehendak orangtuanya tersebut, tetapi tidak sedikit
pula yang kurang berhasil dan kemudian menjadi kecewa, frustrasi dan akhirnya
tidak ingin bersekolah sama sekali. Mereka malah pergi bersama dengan
kawan-kawannya, bersenang-senang tanpa mengenal waktu bahkan mungkin kemudian
menjadi salah satu pengguna obat-obat terlarang. Anak pasti juga mempunyai hobi
tertentu. Seperti yang telah disinggung di atas, biarkanlah anak memilih
jurusan sekolah yang sesuai dengan kesenangan ataupun bakat dan hobi si anak.
Tetapi bila anak tersebut tidak ingin bersekolah yang sesuai dengan hobinya,
maka berilah pengertian kepadanya bahwa tugas utamanya adalah bersekolah sesuai
dengan pilihannya, sedangkan hobi adalah kegiatan sampingan yang boleh
dilakukan bila tugas utama telah selesai dikerjakan.
3. PENGGUNAAN WAKTU LUANG
Kegiatan di masa remaja sering hanya berkisar pada kegiatan sekolah dan seputar
usaha menyelesaikan urusan di rumah, selain itu mereka bebas, tidak ada
kegiatan. Apabila waktu luang tanpa kegiatan ini terlalu banyak, pada si remaja
akan timbul gagasan untuk mengisi waktu luangnya dengan berbagai bentuk
kegiatan. Apabila si remaja melakukan kegiatan yang positif, hal ini tidak akan
menimbulkan masalah. Namun, jika ia melakukan kegiatan yang negatif maka
lingkungan dapat terganggu. Seringkali perbuatan negatif ini hanya terdorong
rasa iseng saja. Tindakan iseng ini selain untuk mengisi waktu juga tidak
jarang dipergunakan para remaja untuk menarik perhatian lingkungannya.
Perhatian yang diharapkan dapat berasal dari orangtuanya maupun kawan
sepermainannya. Celakanya, kawan sebaya sering menganggap iseng berbahaya
adalah salah satu bentuk pamer sifat jagoan yang sangat membanggakan. Misalnya,
ngebut tanpa lampu dimalam hari, mencuri, merusak, minum minuman keras, obat
bius, dan sebagainya.Munculnya kegiatan iseng tersebut selain atas inisiatif si
remaja sendiri, sering pula karena dorongan teman sepergaulan yang kurang
sesuai. Sebab dalam masyarakat, pada umunya apabila seseorang tidak mengikuti
gaya hidup anggota kelompoknya maka ia akan dijauhi oleh lingkungannya.
Tindakan pengasingan ini jelas tidak mengenakkan hati si remaja, akhirnya
mereka terpaksa mengikuti tindakan kawan-kawannya. Akhirnya ia terjerumus.
Tersesat. Oleh karena itu, orangtua hendaknya memberikan pengarahan yang berdasarkan
cinta kasih bahwa sikap iseng negatif seperti itu akan merugikan dirinya
sendiri, orangtua, maupun lingkungannya. Dalam memberikan pengarahan, orangtua
hendaknya hanya membatasi keisengan mereka. Jangan terlalu ikut campur dengan
urusan remaja. Ada kemungkinan, keisengan remaja adalah semacam ‘refreshing’
atas kejenuhannya dengan urusan tugas-tugas sekolah. Dan apabila anak senang
berkelahi, orangtua dapat memberikan penyaluran dengan mengikutkannya pada satu
kelompok olahraga beladiri.
Mengisi waktu luang selain diserahkan kepada kebijaksanaan remaja, ada baiknya
pula orangtua ikut memikirkannya pula. Orangtua hendaknya jangan hanya tersita
oleh kesibukan sehari-hari. Orangtua hendaknya tidak hanya memenuhi kebutuhan
materi remaja saja. Orangtua hendaknya juga memperhatikan perkembangan
batinnya. Remaja, selain membutuhkan materi, sebenarnya juga membutuhkan
perhatian dan kasih sayang. Oleh karena itu, waktu luang yang dimiliki remaja
dapat diisi dengan kegiatan keluarga sekaligus sebagai sarana rekreasi.
Kegiatan keluarga ini hendaknya dapat diikuti oleh seluruh anggota keluarga.
Kegiatan keluarga dapat berupa pembacaan Paritta bersama di Cetiya dalam rumah
ataupun melakukan berbagai bentuk permainan bersama, misalnya scrabble,
monopoli, dan lain sebagainya. Kegiatan keluarga dapat pula berupa tukar
pikiran dan berbicara dari hati ke hati. Misalnya, dengan makan malam bersama
atau duduk santai di ruang keluarga. Pada hari Minggu seluruh anggota keluarga
dapat diajak kebaktian di Vihãra setempat. Mengikuti kebaktian, selain
memperbaiki pola pikir agar lebih positif sesuai dengan Buddha Dhamma juga
dapat menjadi sarana rekreasi. Hal ini dapat terjadi karena di Vihãra kita
dapat berjumpa dengan banyak teman dan juga dapat berdiskusi Dhamma dengan para
Bhikkhu maupun pandita yang dijumpai. Selain itu, dihari libur, seluruh anggota
keluarga dapat bersama-sama pergi berenang, jalan-jalan ke taman ria atau mal,
dan lain sebagainya.
4. UANG SAKU
Orangtua hendaknya memberikan teladan untuk menanamkan pengertian bahwa uang
hanya dapat diperoleh dengan kerja dan keringat. Remaja hendaknya dididik agar
dapat menghargai nilai uang. Mereka dilatih agar mempunyai sifat tidak suka
memboroskan uang tetapi juga tidak terlalu kikir. Anak diajarkan hidup dengan
bijaksana dalam mempergunakan uang dengan selalu menggunakan prinsip hidup
‘Jalan tengah’ seperti yang diajarkan oleh Sang Buddha.Ajarkan pula anak untuk
mempunyai kebiasaan menabung sebagian dari uang sakunya. Menabung bukanlah
pengembangan watak kikir, melainkan sebagai bentuk menghargai uang yang didapat
dengan kerja dan semangat. Pemberian uang saku kepada remaja memang tidak dapat
dihindarkan. Namun, sebaiknya uang saku diberikan dengan dasar kebijaksanaan.
Jangan berlebihan. Uang saku yang diberikan dengan tidak bijaksana akan dapat
menimbulkan masalah. Yaitu:
a. Anak menjadi boros
b. Anak tidak menghargai uang, dan
c. Anak malas belajar, sebab mereka pikir tanpa kepandaian pun uang gampang.
5. PERILAKU SEKSUAL
Pada saat ini, kebebasan bergaul sudah sampai pada tingkat yang menguatirkan.
Para remaja dengan bebas dapat bergaul antar jenis. Tidak jarang dijumpai
pemandangan di tempat-tempat umum, para remaja saling berangkulan mesra tanpa
memperdulikan masyarakat sekitarnya. Mereka sudah mengenal istilah pacaran sejak
awal masa remaja. Pacar, bagi mereka, merupakan salah satu bentuk gengsi yang
membanggakan. Akibatnya, di kalangan remaja kemudian terjadi persaingan untuk
mendapatkan pacar. Pengertian pacaran dalam era globalisasi informasi ini sudah
sangat berbeda dengan pengertian pacaran 15 tahun yang lalu. Akibatnya, di
jaman ini banyak remaja yang putus sekolah karena hamil. Oleh karena itu, dalam
masa pacaran, anak hendaknya diberi pengarahan tentang idealisme dan kenyataan.
Anak hendaknya ditumbuhkan kesadaran bahwa kenyataan sering tidak seperti
harapan kita, sebaliknya harapan tidak selalu menjadi kenyataan. Demikian pula
dengan pacaran. Keindahan dan kehangatan masa pacaran sesungguhnya tidak akan
terus berlangsung selamanya.Dalam memberikan pengarahan dan pengawasan terhadap
remaja yang sedang jatuh cinta, orangtua hendaknya bersikap seimbang, seimbang
antar pengawasan dengan kebebasan. Semakin muda usia anak, semakin ketat
pengawasan yang diberikan tetapi anak harus banyak diberi pengertian agar
mereka tidak ketakutan dengan orangtua yang dapat menyebabkan mereka berpacaran
dengan sembunyi-sembunyi. Apabila usia makin meningkat, orangtua dapat memberi
lebih banyak kebebasan kepada anak. Namun, tetap harus dijaga agar mereka tidak
salah jalan. Menyesali kesalahan yang telah dilakukan sesungguhnya kurang
bermanfaat. Penyelesaian masalah dalam pacaran membutuhkan kerja sama orangtua
dengan anak. Misalnya, ketika orangtua tidak setuju dengan pacar pilihan si
anak. Ketidaksetujuan ini hendaknya diutarakan dengan bijaksana. Jangan hanya
dengan kekerasan dan kekuasaan. Berilah pengertian sebaik-baiknya. Bila tidak
berhasil, gunakanlah pihak ketiga untuk menengahinya. Hal yang paling penting
di sini adalah adanya komunikasi dua arah antara orangtua dan anak. Orangtua hendaknya
menjadi sahabat anak. Orangtua hendaknya selalu menjalin dan menjaga komunikasi
dua arah dengan sebaik-baiknya sehingga anak tidak merasa takut menyampaikan
masalahnya kepada orangtua.
Dalam menghadapi masalah pergaulan bebas antar jenis di masa kini, orangtua
hendaknya memberikan bimbingan pendidikan seksual secara terbuka, sabar, dan
bijaksana kepada para remaja. Remaja hendaknya diberi pengarahan tentang
kematangan seksual serta segala akibat baik dan buruk dari adanya kematangan
seksual. Orangtua hendaknya memberikan teladan dalam menekankan bimbingan serta
pelaksanaan latihan kemoralan yang sesuai dengan Buddha Dhamma. Sang Buddha
telah memberikan pedoman untuk bergaul yang tentunya juga sesuai untuk pegangan
hidup para remaja. Mereka hendaknya dididik selalu ingat dan melaksanakan
Pancasila Buddhis. Pancasila Buddhis atau lima latihan kemoralan ini adalah
latihan untuk menghindari pembunuhan, pencurian, pelanggaran kesusilaan,
kebohongan, dan mabuk-mabukan. Dengan memiliki latihan kemoralan yang kuat,
remaja akan lebih mudah menentukan sikap dalam bergaul. Mereka akan mempunyai
pedoman yang jelas tentang perbuatan yang boleh dilakukan dan perbuatan yang
tidak boleh dikerjakan. Dengan demikian, mereka akan menghindari perbuatan yang
tidak boleh dilakukan dan melaksanakan perbuatan yang harus dilakukan.
E. Cara
Mengatasi Kenakalan Remaja
1. Kegagalan mencapai
identitas peran dan lemahnya kontrol diri bisa dicegah atau diatasi dengan
prinsip keteladanan. Remaja harus bisa mendapatkan sebanyak mungkin figur
orang-orang dewasa yang telah melampaui masa remajanya dengan baik juga mereka
yang berhasil memperbaiki diri setelah sebelumnya gagal pada tahap ini.
2. Adanya motivasi dari
keluarga, guru, teman sebaya untuk melakukan point pertama.
3. Kemauan orangtua untuk
membenahi kondisi keluarga sehingga tercipta keluarga yang harmonis,
komunikatif, dan nyaman bagi remaja.
4. Remaja pandai memilih
teman dan lingkungan yang baik serta orangtua memberi arahan dengan siapa dan
di komunitas mana remaja harus bergaul.
5. Remaja membentuk
ketahanan diri agar tidak mudah terpengaruh jika ternyata teman sebaya atau
komunitas yang ada tidak sesuai dengan harapan.